Deteksi Antraks dengan Real Time PCR

Kasus Antraks di Jogja

Awal tahun 2020 dikejutkan dengan kejadian matinya sejumlah ternak di Kabupaten Gunungkidul, setelah diperiksa maka dapat dipastikan bahwa penyebab kematian ternak tersebut dikarenakan penyakit antraks, dilaporkan juga bahwa terdapat 27 warga yang dinyatakan positif antraks. Kejadian tersebut membuat Kemnterian Kesehatan (kemenkes) menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks di Kabupaten Gunungkidul.

Antraks merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Bacillus antharacis. Gunungkidul yang merupakan kawasan kapur, disinyalir menjadi tempat yang nyaman untuk tumbuhnya spora bakteri Bacillus antharacis. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu kasus antraks yang terus saja muncul di kabupaten tersebut. Penyakit ini dapat menular ke mausia melalui binatang yang membawa bakteri tersebut. Bakteri ini dapat menyerang saluran pencernaan, kulit, hingga pernafasan.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk penyakir ini, diantaranya adalah pemeriksaan patologi, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan kotoran. Pada masing-masing pemeriksaan ini akan mendeteksi adanya bakteri pada sampel yang diperiksa. Pengujian yang dilakukan harus secara tepat dan cepat, agar dapat dilakukan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan. Salah satu metode yang dapat mendeteksi bakter Bacillus antharacis secara tepat dan cepat adalah metode Real Time PCR (qPCR), metode ini dapat mendetksi bakteri dengan mendeteksi DNA bakteri target. Alat yang digunakan untuk metode ini adalah Thermal Cycler. Salah satu Thermal Cycler yang banyak digunakan untuk qPCR adalah PCRMax Eco48 Real Time PCR.