Perbedaan Rapid Test dan Real Time PCR Test

PERBEDAAN RAPID TEST DAN REAL TIME PCR TEST

Rapid Test Berbasis Serologi

Prinsip kerja dari Rapid Test ini adalah berbasis serologi, yaitu menidentifikasikan virus berdasarkan antibody yang terbentuk dlam tubuh setelah seseorang terinfeksi virus. Pada setiap strip rapid test mengandung 3 indikator penanda antibody yaitu c, IgG, dan IgM. IgG merupakan antibodi yang paling banyak terdapat di dalam darah. Sedangan IgM akan terbentuk Ketika sistem imum berhadapan dengan patogen. Hasil dari rapid test ini akan didapatkan dalam waktu 15 menit. Jika muncul garis merah pada indicator C maka hasilnya negatif. Sedangkan hasil positif jika garis merah muncul pada indikator C-IgG-IgM, C-IgG, atau C-IgM. 

Sistem imun tubuh akan terbentuk setelah 6-7 hari setelah seseorang terinfeksi. Jadi, apabila seseorang diperiksa dengan menggunakan rapid test berbasis serologi pada ari ke 1-5 setelah terinfeksi (sistem imun belum terbentuk), maka akan mendapatkan hasil yang negatif, hal ini yang menyebabkan adanya false negatif. Sehingga pengujian rapid test berbasis serologi ini dianggap kurang akurat, karena yang dicek antibodinya bukan keberadaan virusnya.

Real Time PCR (qPCR)

                Prinsip kerja qPCR adalah mendeteksi keberadaan virus di dalam tubuh seseorang berdasarkan DNA/RNA virus yang ada. Teknik qPCR digunakan untuk pengujian lain seperti HIV, Hepatitis C, dan Influenza. Sebelum dilakukan pengecekan qPCR, sampel swab yang didapatkan akan diekstraksi untuk mendapatkan DNA/RNA sebagai materi genetik yang akan digunakan pada proses qPCR. Proses qPCR memerlukan waktu 3-4 jam dari awal proses hingga mendapatkan hasilnya. Dari segi waktu, memang oengerjaan qPCR ini akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan rapi test berbasis serologi, tetapi pengujian dengan menggunakan qPCR lebih akurat dibandingkan dengan rapid test, karena pada qPCR yang dideteksi adalah keberadaan virus di dalam tubuh seseorang.